Sunday, 7 September 2014
Diagnosa WAN - Challenge Handshake Authentication Protocol (CHAP)
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
09:11
Challenge Handshake
Authentication Protocol (CHAP) merupakan salah satu protokol Point -to-Point
yang menyediakan layanan otentikasi dengan menggunakan suatu identifier yang
berubah-ubah dan suatu variabel challenge. CHAP digunakan secara periodik untuk
memverifikasi pengguna atau host network menggunakan suatu metode yang
dinamakan 3-way handshake. Proses ini dilakukan selama inisialisasi link
establishment. Dan sewaktu-waktu bisa saja diulang setelah hubungan telah
terbentuk. Berikut di bawah ini proses yang terjadi pada protokol CHAP :
Setelah fase link establishment selesai, otentikator mengirimkan sebuah pesan challenge ke peer atau pasangan usernya.
Peer meresponnya dengan menghitung suatu nilai hash-nya.
Otentikator merespon nilai hash tersebut, kemudian membandingkannya. Jika nilai hash-nya sama, maka otentikasi valid, sebaliknya koneksi bisa saja diputus.
Pada interval tertentu (ditentukan secara acak), otentikator mengirimkan suatu challenge baru kepada peer dan peer meresponnya seperti pada tahap (2).
Begitupun dengan otentikator merespon nilai hash tersebut seperti pada tahap (3).
Spesifikasi umum chap :
Persyaratan Desain
Algoritma CHAP mensyaratkan bahwa panjang nilai secret minimal harus delapan oktet (64-bit). Dan juga nilai secret tersebut diusahakan tidak terlalu pendek serta susah untuk ditebak (tidak bersifat umum, contoh : root, 123456, dan lain-lain). Nilai secret tersebut disarankan minimal sepanjang nilai hashnya (hal ini tergantung dari algoritma hash yang dipilih) atau dengan kata lain panjangnya tidak kurang dari nilai hashnya. Hal ini dimaksudkan agar cukup tahan terhadap exhaustive search attack. Masing - masing nilai challenge harus unique (tidak sama satu sama lain), karena perulangan dari nilai challenge tersebut dalam hal ini untuk nilai secret yang sama, akan memberikan peluang bagi attacker untuk melakukan replay attack. Oleh karena itu diharapkan bahwa untuk nilai secret yang sama yang digunakan untuk melakukan
otentikasi dengan server – server pada wilayah yang berbeda-beda, nilai challenge-nya harus menunjukkan keunikan. Disamping itu juga, nilai challenge harus bersifat unpredictable. Karena dengan nilai challenge yang bersifat unpredictable, dapat melindungi dari serangan – serangan aktif dengan jangkauan yang luas.
Kelebihan
CHAP memberikan perlindungan terhadap playback attack yang dilakukan oleh peer. Kegunaan dari challenge yang diulang-ulang adalah dimaksudkan untuk membatasi waktu pembukaan untuk suatu single attack. Otentikator bertugas mengontrol frekuensi dan waktu dari challenges. Metode otentikasi ini tergantung pada suatu nilai secret yang hanya diketahui oleh otentikator dan peer yanag bersangkutan dimana nilai secret tersebut tidak dikirimkan lewat jaringannya. Walaupun otentikasinya bersifat satu arah (one way), melalui negosiasi CHAP pada kedua arah, maka nilai secret yang sama dapat dengan mudah digunakan untuk mutual authentication.
Kekurangan
Disamping memiliki kelebihan, CHAP juga memiliki kekurangan yakni nilai secret-nya harus tersedia dalam bentuk plaintext. Basis data untuk password yang terenkripsi satu arah, ada yang tidak bisa digunakan. Sehingga hal tersebut membuat CHAP tidak baik untuk jaringan yang lebih luas. Hal ini karena akan membuat instalasi yang besar yang harus dikelola di kedua pihak (peer) dalam jaringan.
Pilihan format konfigurasi untuk CHAP:
§ Type - 3
§ Length - 5
§ Authentication-Protocol - C223 (Hex) untuk CHAP
§ Algorithm - algoritma berisi satu oktet yang mengindikasikan metode authentikasi yang digunakan
Packet format
§ Code - mengidentifikasi tipe paket CHAP:
1. Challenge;
2. Response;
3. Success;
4. Failure.
§ Identifier – identifier yang digunakan dalam pencocokan challanges, responses and replies.
§ Length – panjang bit dari paket CHAP yang berisi Code, Identifier, Length and Data fields.
§ Data - 0 atau lebih oktet, formatnya ditentukan oleh Code field.
Challenge and response
Paket challenge digunakan untuk protokol autentikasi challenge-handshake (CHAP). Pihak autentikasi harus mengirim paket CHAP dengan kolom kode yang di-set 1. Tambahan paket challenge harus dikirim sampai paket Respon yang valid diterima, atau pilihan lain yang counternya telah berakhir.
Paket challenge dapat ditransmisikan setiap saat selama layer protokol jaringan dapat menjamin koneksi tidak mengalami perubahan.
Suatu pihak harus memperkirakan paket challenge selama fase autentikasi dan fase protokol Lapisan jaringan. Setiap kali paket challenge diterima, pihak tsb mengirim paket dengan kolom kode di-set 2 (response).
Setiap kali paket response diterima, pihak autentikasi akan membandingkan nilai response dengan nilai perhitungan yang diharapkan. Berdasarkan perbandingan ini, pihak autentikasi harus mengirim paket Sukses atau Gagal.
Implementasi: karena kesuksesan dapat hilang atau gagal, maka pihak autentikasi dapat mengulang paket response selama fase protokol lapisan jaringan menyelesaikan tahap autentikasi. Untuk mencegah penemuan alternatif Nama dan Kunci rahasia, setiap paket response yang diterima memiliki identitas challenge yang kembali dengan jawaban yang sama sebelumnya untuk challenge yang spesifik ( namun bagian pesan dapat berbeda). Setiap paket response yang diterima dalam fase lainnya harus dihilangkan secara diam-diam. Ketika kegagalan dapat dihilangkan dan pihak autentikasi memberhentikan hubungan, LCP terminate-request-terminate-ack akan memberikan indikasi lain bahwa autentikasi gagal.
Ringkasan mengenai format paket challenge dan response adalah sebagai berikut:
Field yang ditransmisikan dari kiri ke kanan.
1. Code
Bernilai: 1 untuk challenge
2 untuk response
2. Field Identifier
Field identifier berisi satu byte. Field identifier harus diubah setiap kali paket challenge dikirim. ID response harus disalin dari kolom ID challenge yang menyebabkan response.
3. Value-size
Field ini berisi satu byte dan menjelaskan panjang dari kolom Value
4. Value
Field value ini berisi satu atau lebih byte. Byte yang terbesar ditransmisikan terlebih dahulu. Nilai dari challenge adalah variabel aliran dari byte. Pentingnya nilai challenge yang unik dan hubungannya dengan nilai rahasia akan dijelaskan lebih lanjut. Nilai challenge harus berubah setiap kali challenge dikirimkan. Panjang dari nilai challenge bergantung pada metode yang digunakan untuk menghasilkan byte dan saling bebas terhadap algoritma hash yang digunakan.
Nilai response merupakan hasil perhitungan hash satu arah pada aliran byte yang terdiri dari Identitas, diikuti (di-concate dengan) nilai rahasia, dan nilai challenge. Panjang dari nilai response bergantung pada algoritma hash yang digunakan. (MD5: 16-byte)
5. Name
Field dari Nama berisi satu atau lebih byte yang merepresentasikan identitas dari sistem transmisi paket. Tidak ada batasan pada isi dari field ini. Sebagai contoh, field ini dapat berisi rangkaian karakter ASCII atau identitas unik dalam syntax ASN.1. Nama tidak diperkenankan NUL atau CR/LF. Ukurannya ditentukan dari panjang Field.
Sukses dan Kegagalan
Jika Nilai yang diterima dalam Respon sama dengan yang nilai diharapkan, maka otentikator harus mengirimkan paket CHAP dengan kolom kode di-set ke 3 (Sukses).
Jika Nilai yang diterima dalam Respon tidak sama dengan yang diharapkan nilai, maka otentikator harus mengirimkan paket CHAP dengan kolom Kode diatur ke 4 (gagal), dan mengakhiri link.
Ringkasan mengenai format paket challenge dan response adalah sebagai berikut:
Field yang ditransmisikan dari kiri ke kanan.
Kode:
3 untuk Sukses;
4 untuk Kegagalan.
Identifier merupakan 1 oktet untuk membandingkan request dan replies. Identifier harus diambil dari field identifier pada respon.
Message merupakan 0 atau lebih oktet, isinya bisa dibaca dan tidak boleh mempengaruhi operasi dalam protocol, direkomendasikan isi dari pesan ini merupakan karakter ASCII antara decimal 32 sampai 126. Ukurannya ditentukan dari field length.
Paket
|
Description
|
1 byte
|
1 byte
|
2 bytes
|
1 byte
|
Variable
|
variable
|
|
Challenge
|
Code = 1
|
ID
|
Length
|
Challenge Length
|
Challenge value
|
Name
|
|
Response
|
Code = 2
|
ID
|
Length
|
Response Length
|
Response value
|
Name
|
|
Success
|
Code = 3
|
ID
|
Length
|
Message
|
||
|
Failure
|
Code = 4
|
ID
|
Length
|
Message
|
Sumber :
- RFC 1994 -
PPP Challenge Handshake Authentication Protocol (CHAP)
- RFC 2865 -
Remote Authentication Dial In User Service (RADIUS): uses PAP or CHAP
- RFC 3748 -
Extensible Authentication Protocol (EAP): discusses
CHAP
Diagnosa WAN - PAP (Password Authentication Protocol)
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
09:10
PAP (Password Authentication
Protocol) adalah bentuk otentikasi paling dasar, di mana username dan password
yang ditransmisikan melalui jaringan dan dibandingkan dengan tabel pasangan
username dan password. Biasanya password yang disimpan dalam tabel terenkripsi.
Otentikasi dasar yang digunakan dalam protokol HTTP adalah PAP. Kelemahan pokok
PAP adalah bahwa username dan password dikirim tanpa dienkripsi lebih dahulu.
Autentifikasi pada ISP umumnya
mempergunakan metode PAP (Password Authentication Protocol). Setiap client yang
akan terkoneksi ke jaringan harus melalui autentifikasi yang dilakukan oleh RAS
Server. Metode autentifikasi yang digunakan antara lain PAP (Password
Authentication Protocol).
Jika client harus memasukkan
user name dan password langsung dengan menuliskan teksnya, berarti system
tersebut tidak menggunakan metode PAP.
Sumber :
RFC 1334 - PPP Authentication
Protocols
Diagnosa WAN - PPP (Point-to-Point Protocol)
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
09:07
Point-to-Point Protocol (PPP)
adalah data link protokol yang umum digunakan dalam membangun hubungan langsung
antara dua node jaringan. Hal ini dapat menyediakan koneksi otentikasi,
transmisi enkripsi (menggunakan ECP, RFC 1968), dan kompresi.
PPP digunakan di banyak jenis
jaringan fisik termasuk kabel serial, saluran telepon, trunk line, telepon
seluler, jaringan radio khusus, dan serat optik seperti SONET. PPP juga
digunakan melalui koneksi Akses Internet (sekarang dipasarkan sebagai
"broadband"). Penyedia layanan Internet (ISP) telah menggunakan PPP
untuk pelanggan dial-up akses ke Internet, karena paket IP tidak dapat
dikirimkan melalui jalur modem sendiri, tanpa beberapa protokol data link. Dua
turunan dari PPP, Point-to-Point Protocol over Ethernet (PPPoE) dan
Point-to-Point Protocol atas ATM (PPPoA), paling sering digunakan oleh Internet
Service Provider (ISP) untuk membangun a Digital Subscriber Line (DSL) koneksi
internet layanan dengan pelanggan.
PPP biasanya digunakan sebagai
lapisan data link protokol untuk koneksi melalui sinkron dan sirkuit
asynchronous, di mana sebagian besar telah digantikan yang lebih tua Serial
Baris Internet Protocol (SLIP) dan perusahaan telepon standar diamanatkan
(seperti Link Access Protocol, Seimbang (LAPB) di X.25 protocol suite). PPP
dirancang untuk bekerja dengan berbagai lapisan jaringan protokol, termasuk
Internet Protocol (IP), getar, Novell Internetwork Packet Exchange (IPX), NBF
danAppleTalk.
Bagian sebelumnya
memperkenalkan penggunaan pilihan LCP untuk memenuhi kebutuhan koneksi WAN
tertentu. PPP dapat mencakup pilihan LCP berikut:
Authentication - router pesan
otentikasi pertukaran Peer. Dua pilihan otentikasi Password Authentication
Protocol (PAP) dan Tantangan Handshake Authentication Protocol(CHAP). Otentikasi
dijelaskan pada bagian berikutnya.
Kompresi - Meningkatkan
throughput efektif pada koneksi PPP dengan mengurangi jumlah data dalam frame
yang harus perjalanan di link. Protokol decompress frame di tempat tujuan.
Lihat RFC 1962 untuk rincian lebih lanjut.
Kesalahan deteksi -
Mengidentifikasi kondisi kesalahan. Kualitas dan pilihan Nomor Sihir membantu
memastikan yang handal, data link loop-free. The Magic bidang Nomor membantu
dalam mendeteksi link yang berada dalam kondisi loop-kembali. Sampai Konfigurasi
Opsi Magic-Nomor telah berhasil dinegosiasikan, Magic-Nomor harus dikirimkan
sebagai nol. Angka ajaib dihasilkan secara acak di setiap ujung sambungan.
Multilink - Menyediakan load
balancing beberapa antarmuka yang digunakan oleh PPP melalui Multilink PPP
(lihat di bawah).
Sumber :
RFC 1661 - The Point-to-Point
Protocol (PPP)
Diagnosa WAN - WAN Enkapsulasi
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
09:05
Pada setiap koneksi WAN, data
dienkapsulasi menjadi frame sebelum menyeberang link WAN. Untuk memastikan
bahwa protokol yang benar digunakan, Anda perlu mengkonfigurasi sesuai Layer 2
tipe enkapsulasi. Pilihan protokol tergantung pada teknologi WAN dan peralatan
komunikasi. Lebih umum WAN protokol dan di mana mereka digunakan ditunjukkan
pada gambar, berikut adalah deskripsi singkat:
HDLC - Default enkapsulasi pada
point-to-point koneksi, link khusus, dan koneksi circuit-switched ketika link
menggunakan dua perangkat Cisco. HDLC sekarang dasar untuk sinkron PPP
digunakan oleh banyak server untuk terhubung ke WAN, paling sering internet.
PPP - Menyediakan
router-to-router dan koneksi host-to-jaringan melalui sirkuit sinkron dan
asinkron. PPP bekerja dengan beberapa protokol lapisan jaringan, seperti IP dan
Internetwork Packet Exchange (IPX). PPP juga memiliki built-in mekanisme
keamanan seperti PAP dan CHAP. Sebagian besar bab ini berkaitan dengan PPP.
Serial Line Internet Protocol
(SLIP) - Sebuah protokol standar untuk point-to-point koneksi serial
menggunakan TCP / IP. SLIP sebagian besar telah mengungsi oleh PPP.
X.25 / Link Prosedur akses, Seimbang
(LAPB) - standar ITU-T yang mendefinisikan bagaimana koneksi antara DTE dan DCE
dikelola untuk akses terminal jarak jauh dan komunikasi komputer dalam jaringan
data publik. X.25 LAPB menentukan, lapisan protokol data link. X.25 adalah
pendahulu ke Frame Relay.
Frame Relay - standar industri,
diaktifkan, protokol data link layer yang menangani beberapa sirkuit virtual.
Frame Relay adalah protokol generasi berikutnya setelah X.25. Frame Relay
menghilangkan beberapa proses yang memakan waktu (seperti koreksi kesalahan dan
flow control) digunakan dalam X.25. Bab berikutnya dikhususkan untuk Frame
Relay.
ATM - Standar internasional
untuk cell relay di mana perangkat mengirim beberapa jenis layanan (seperti
suara, video, atau data) di tetap-panjang (53-byte) sel. Sel panjang tetap
memungkinkan pemrosesan untuk terjadi di hardware, sehingga mengurangi
penundaan transit. ATM mengambil keuntungan dari media transmisi kecepatan
tinggi seperti E3, SONET, dan T3.
Diagnosa WAN - STP (Spanning Tree Protocol)
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
08:56
Perkembangan pemikiran pemasaran, disadari atau tidak,
sejalan dengan perkembangan peradaban dan pemikiran masyarakat di berbagai
bangsa. Hal ini dapat terjadi karena pemikiran di bidang pemasaran selalu
melekat dalam kehidupan masyarakat yang selalu berfikir alternatif. Maksudnya
adalah dimana masyarakat selalu dihadapkan pada suatu pilihan dan sumber daya
yang terbatas untuk mampu memaksimumkan kepuasan. Pemasaran dirasa kurang
karena disebabkan adanya 2 alasan, yaitu:
1)Banyak produsen pemasar masih menggunakan konsep produksi
massal sebagai basis kegiatannya.
2)Daya beli masyarakat masih relatif terbatas, sehingga
kecenderungan masyarakat membeli atas dasar pertimbangan harga murah.
Segmentasi, Targeting dan Positioning. Strategi pemasaran
modern STP (Segmenting, Targeting, Positioning) yaitu (1) segmentasi pasar, (2)
penetapan pasar sasaran, (3) penetapan posisi pasar, seperti yang dijelaskan
(Kotler, 1995 : 315). 1). Segmentasi. 1.Segmen pasar : Sub kelompok orang-orang
atau organisasi yang memiliki satu atau lebih karakteristik yang sama
menyebabkan mereka memiliki produk yang serupa. 2.Segmentasi pasar : proses
membagi sebuah pasar ke segmen-segmen atau kelopok-kelompok yang bermakna,
relative sama dan dapat diidentifikasikan. Tujuan segmentasi pasar adalah
membuat para pemasar mampu menyelesaikan bauran pemasaran untuk memenuhi
kebutuhan satu atau lebih segmen pasar tertentu. Segmentasi pasar merupakan
suatu aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar
yang homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi,
perilaku pembelian maupun gaya hidup. Kotler (2003) menyatakan: “Market
segmentation is the process of breaking a heterogeneous group of potential
buyer into smaller homogeneous groups of buyer, that is with relatively similar
buying characteristics or needs”. Selanjutnya Thompson (2000) menyatakan bahwa
tantangan dalam pemasaran adalah untuk mengidentifikasi pasar potensial yang
menguntungkan untuk dilayani karena jarang sekali satu program pemasaran dapat
memuaskan pasar yang heterogen yang berbeda selera dan karakteristik untuk itu
diperlukan segmentasi pasar. Sementara itu Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu
(2003) menyatakan bahwa segmentasi adalah melihat pasar secara kreatif,
segmentasi merupakan seni mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang-peluang
yang muncul di pasar. Pada saat yang sama segmentasi merupakan ilmu (science)
untuk memandang pasar berdasarkan variabel geografis, demografis, psikografis
dan perilaku. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa segmentasi
memiliki peran penting dalam sebuah perusahaan. Segmentasi tersebut memiliki
peran penting karena beberapa alasan; pertama, segmentasi memungkinkan
perusahaan untuk lebih fokus dalam mengalokasikan sumber daya. Dengan membagi
pasar menjadi segmen-segmen akan memberikan gambaran bagi perusahaan untuk
menetapkan segmen mana yang akan dilayani. Selain itu segmentasi memungkinkan
perusahaan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai peta kompetisi serta
menentukan posisi pasar perusahaan (Kotler, Kartajaya, Huan dan liu, 2003).
Kedua, segmentasi merupakan dasar untuk menentukan komponen-komponen strategi.
Segmentasi yang disertai dengan pemilihan target market akan memberikan acuan
dalam penentuan positioning. Ketiga, segmentasi merupakan faktor kunci untuk
mengalahkan pesaing, dengan memandang pasar dari sudut yang unik dan cara yang
berbeda dari yang dilakukan pesaing. Tingkatan Segmentasi Pasar Segmentasi
pasar dimulai dari mengidentifikasi mass market (pemasaran massal) (Thomson,
2000). Mass market ini terlalu beragam dan sulit untuk menetapkan target market
dengan program pemasaran tunggal, dengan demikian pasar tersebut perlu disegmen
menjadi kelompok-kelompok yang homogen. Starting point dari segmentasi adalah
mass marketing. Didalam mass marketing program pemasaran dilakukan secara
massal seperti distribusi massal, promosi massal dan lainnya atau dengan kata
lain satu produk untuk semua. Akan tetapi mass marketing tidak selalu sukses
dalam melayani pasarnya karena satu program pemasaran tidak bisa melayani pasar
yang heterogen sehingga pelu dilakukan segmentasi, niche marketing (relung
pasar) dan pasar individu (Kotler, 2003). Segmentasi pasar terdiri dari usaha
untuk mengidentifikasi sebuah kelompok menjadi sebuah kelompok yang memiliki
kesamaan. Segmentasi merupakan cara tengah antara mass marketing dengan
individu. Dalam segmentasi pasar orang yang berada dalam satu segmen
diasumsikan benar-benar memiliki persamaan, padahal tidak ada dua orang yang
benar-benar memiliki persamaan dalam suatu hal (Kotler, 2003). Dengan demikian
segmentasi pasar memiliki beberapa keuntungan dibandingkan mass market antara
lain perusahaan dapat menciptakan produk dan layanan yang cocok atau sesuai
dengan target market. Perusahaan juga akan lebih mudah dalam menetapkan canel
distribusi dan dalam menetapkan komunikasi pemasaran. Pada niche marketing
lebih fokus terhadap ceruk-ceruk pasar yang belum dilayani dengan baik. Hal ini
dilakukan dengan mengidentifikasi segmen yang sudah ada menjadi sub segmen yang
lebih kecil. Dengan adanya niche market perusahaan dapat memahami konsumen
dengan baik. Ciri menarik dari niche market adalah konsumen pada niche market
mempunyai kebutuhan yang kuat, konsumen ini mau membayar dengan harga yang
premium kepada perusahaan yang dapat memuaskan mereka dengan baik. Nice market
memiliki pertumbuhan yang potensial dan profitable sehingga perusahaan dapat
melayani segmen ini. Sementara itu pada pasar individu merupakan bagian
terakhir dalam segmen, setiap individu memiliki keunikan masing-masing. Pasar
individu dikenal juga dengan customize marketing atau one to one marketing
dimana konsumen dilayani secara individu. Perusahaan dapat melayani pasar
individu secara customize sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen seperti
yang mereka harapkan. Pola Segmentasi Pasar Untuk mengidentifikasai preferensi
segmen ada tiga pola segmentasi pasar yang dapat digunakan (Kotler,2003). Pola
tersebut adalah: 1. Homogeneus preference (preferensi homogen) Homogeneus
preference merupakan pola yang menunjukkan bahwa konsumen memiliki preferensi
yang sama terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. 2. Diffused preference
(preferensi yang menyebar) Diffused preference merupakan pola yang menunjukkan
bahwa konsumen memiliki preferensi yang beragam terhadap suatu produk atau jasa
yang ditawarkan 3. Clustered preference (preferensi yang mengelompok) Clustered
preference merupakan pola yang menunjukkan bahwa konsumen memiliki preferensi
yang berkelompok-kelompok. Dimana konsumen yang berada dalam satu kelompok
memiliki kesamaan preferensi. Prosedur dan Proses Segmentasi Pasar Ada tiga
tahap yang harus dilakukan dalam segmentasi pasar (Kotler,2003) yaitu: 1.
Survey Stage Survey Stage merupakan tahap melakukan eksplorasi baik melalui
focus group discussion atau dengan wawancara terhadap beberapa kelompok
konsumen untuk memperoleh keterangan mengenai motivasi, sikap dan perilaku
konsumen. 2. Analysis Stage Analysis Stage merupakan tahap analisis terhadap
informasi yang telah diperoleh melalui survey. Analisis dapat dilakukan dengan
menerapkan analisis faktor untuk menelaah variabel-variabel mana yang
berkolerasi tinggi kemudian menerapkan analisis cluster untuk menciptakan atau
mengetahui kelompok-kelompok pasar yang secara signifikan memiliki perbedaan
karakteristik. 3. Profiling Stage Profiling Stage merupakan tahap untuk
mengidentifikasi frofil masing-masing cluster yang terbentuk. Dengan ini akan
teridentifikasi perbedaan masing-masing cluster berdasarkan sikap dan perilaku,
demografi, psikografi, manfaat atau value yang diharapkan dari sebuah program
MM, kemudian masing-masing cluster diberi nama berdasarkan karakteristik yang
menonjol (Fanggidae, 2006). Dasar Segmentasi Dalam menetapkan dasar segmentasi
Kotler (2003) ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu pertama, consumen
characteristic (karakteristik konsumen) yang merupakan variabel utama dalam
segmentasi yang terdiri dari : 1. Segmentasi Geografi Pada segmentasi georafi
pengelompokan dilakukan berdasarkan faktor geografinya, seperti berdasarkan
daerah asal atau tempat tinggal konsumen. 2. Demografi Segmentasi Pada
segementasi demografi pengelompokan dilakukan berdasarkan variabel usia, jenis
kelamin dan pekerjaan konsumen. 3.Psychographic segmentation Pada Psychographic
segmentation pengelompokan didasarkan pada karakteristik setiap konsumen,
seperti motivasi, kepribadian, persepsi, interest, minat dan sikap. Kedua
yaitu, consumer responses (respon konsumen) yang terdiri dari Benefit
segmentation (segmentasi manfaat) yaitu pengelompokan yang di dasarkan kepada
manfaat yang diharapkan konsumen dari suatu produk atau jasa, use occasion
(saat pemakaian) dan Brand atau merek. Dengan ini konsumen akan dikelompokkan
berdasarkan respon mereka terhadap produk atau jasa, seperti ada konsumen yang
mementingkan kualitas dan ada konsumen yang mementingkan harga yang murah.
Sementara itu Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu (2003) mengelompokkan pendekatan
dalam melakukan segmentasi pasar menjadi tiga, yaitu : 1.Static Atribut
Segmentation Static Atribut Segmentation mengelompokkan pasar berdasarkan
atribut-atribut statis yang serupa, yang tidak selalu mencerminkan perilaku
pembelian atau penggunaan dan tidak secara langsung mempengaruhi keputusan
konsumen dalam membeli. Jenis atribut ini mencakup variabel geografi dan
demografi. 2.Dynamic Atribut Segmentation Dynamic Atribut Segmentation
mengelompokkan pasar berdasarkan atribut dinamis yang serupa, atau
atribut-atribut yang mencerminkan karakteristik konsumen. Atribut ini mencakup
variabel psikografis dan behavioral. 3. Individual Segmentation Individual
Segmentation mengelompokkan pasar atas unit terkecil atau individu. Menentukan
Dasar Segmentasi Dalam menentukan dasar segmentasi yang akan digunakan dapat
disesuaikan dengan kondisi yang paling relevan. Sebagaimana diketahui konsumen
berbeda dalam banyak hal dan masing – masing berpotensi membentuk segmen, namun
kenyataan tidak semua variabel ini akan bermanfaat untuk semua situasi. Dengan demikian
perlu kehati-hatian dalam memilih variabel segmentasi agar sesuai dengan
perusahaan. Agar strategi segmentasi tersebut tepat perusahaan harus pertama,
memandang pasar dari sudut yang unik dan dengan cara yang berbeda dari yang
dilakukan pesaing. Kedua metode segmentasi yang digunakan harus sejauh mungkin
mencerminkan perilaku pembelian atau penggunaan serta menentukan alasan
pelanggan untuk membeli. Karena alasan inilah dynamic atribut segmentation
lebih unggul dibandingkan static atribut segmentation, sebab atribut ini lebih
mengarah kepada perilaku pembelian, metode ini dapat memberikan informasi yang
berharga bagi perumusan strategi pemasaran yang cocok untuk mempengaruhi
perilaku konsumen tersebut (Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu,2003). Segmentasi
geografis dan demografis lebih mudah dilakukan, karena data yang akurat dan
tepat sudah tersedia. Namun metode ini tidak memberikan gambaran yang yang
jelas tentang bagaimana konsumen memilih dan membeli suatu produk. Sehingga
akan sulit untuk membangun strategi yang lengkap yang menyertakan perumusan
positioning, marketing mix, penjualan, pelayanan, proses dan membangun brand
dengan keakuratan yang baik. Syarat Segmentasi Yang Efektif Dalam melakukan
segmentasi perusahaan perlu memperhatikan efektifitas segmentasi tersebut.
Syarat segmentasi yang efektif adalah (Kotler,2003): 1. Measurable (terukur)
Measurable berarti segmen pasar harus dapat membantu perusahaan dalam mengukur
potensi pasar, daya beli konsumen serta ukuran alokasi sumberdaya. 2. Substansial
(banyak) Substansial berarti segmen tersebut harus besar dan profitable untuk
dilayani. 3. Accessible (dapat diakses) Accessible berarti segmen tersebut
harus mudah dijangkau untuk dilayani. 4. Differentiable (dapat dibedakan)
Differentiabel berarti segmen tersebut dapat dibedakan dengan jelas. 5.
Actionable (dapat dilayani) Actionable berarti segmen tersebut dapat dijangkau
atau dilayani dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Manfaat Segmentasi
Secara umum segmentasi bermanfaat untuk meningkatkan posisi kompetisi
perusahaan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen (Weinstein,
1994 dalam Ariwibowo, 2003,). Lebih lanjut Weinstein (1994) mengemukan secara
terperinci tentang 4 manfaat segmentasi, yaitu: 1. Designing responsive
products to meet the needs of the marketplace. Melalui penelitian preferensi
konsumen, perusahaan berjalan ke arah penyelesaian konsep marketing yaitu
kepuasan konsumen yang akan membawa keuntungan. Perusahaan menempatkan konsumen
sebagai yang utama, kemudian mendisain dan menyeleksi produk untuk kepuasan
konsumen. 2. Determining effective and cost efficient promosional strategies.
Segmentasi sebagai alat perencanaan merupakan alat identifikasi dan analisa
yang berharga untuk mengembangkan communication mix, sehingga dapat dipilih
alat promosi yang sesuai untuk menargetkan pada media yang tepat. 3. Evaluating
market competition in partikular the companys market position. Riset segmentasi
menyediakan a competitive intelegence mechanism untuk mengakses dan membandingkan
perusahaan agar sesuai dengan standar. 4. Providing insight on present
marketing strategies. Segmentasi sangat penting untuk melakukan evaluasi secara
periodik terhadap marketing strategi perusahaan saat ini dengan cara
memanfaatkan peluang baru dan menghindarkan dari adanya potensi terhadap
ancaman. 2)Target Market Setelah perusahaan mengidentifikasi peluang segmen
pasar, selanjutnya adalah mengevaluasi beragam segmen tersebut untuk memutuskan
segmen mana yang menjadi target market. Dalam mengevaluasi segmen pasar yang
berbeda perusahaan harus melihat dua faktor yaitu daya tarik pasar secara
keseluruhan serta tujuan dan resource perusahaan (Kotler, 2003). Perusahaan
harus melihat apakah suatu segmen potensial memiliki karakteristik yang secara
umum menarik seperti ukuran, pertumbuhan, profitabilitas, skala ekonomi, resiko
yang rendah dan lain-lain. Perusahan juga perlu mempertimbangkan apakah
berinvestasi dalam segmen tersebut masuk akal dengan mempertimbangkan tujuan
dan sumber daya perusahaan. Pengertian dari targeting itu sendiri merupakan
sebuah sasaran, siapa yang dituju. Dalam menentukan targeting maka dilakukan
beberapa survey untuk dapat mengetahui keadaan pasar nantinya, agar ketika
proses pemasaran tidak salah sasaran. Selanjutnya Kotler, Kartajaya, Huan dan
Liu (2003) menyatakan ada tiga kriteria yang harus dipenuhi perusahaan pada
saat mengevaluasi dan menentukan segmen mana yang akan dijadikan target.
Pertama, perusahaan harus memastikan bahwa segmen pasar yang dibidik itu cukup
besar dan akan cukup menguntungkan bagi perusahaan. Perusahaan dapat saja
memilih segmen yang kecil pada saat sekarang namun segmen itu mempunyai prospek
menguntungkan dimasa datang. Sehubungan dengan hal ini perusahaan harus
menelaah kompetisi yang ada di sektor tersebut dan potensinya untuk tumbuh
karena akan berkaitan juga dengan ukuran dan pertumbuhan target segmen
perusahaan. Kedua adalah bahwa strategi targeting itu harus didasarkan pada
keunggulan kompetitif perusahaan yang bersangkutan. Keunggulan kompetitif merupakan
cara untuk mengukur apakah perusahaan memiliki kekuatan dan keahlian yang
memadai untuk menguasai segmen pasar yang dipilih sehingga memberikan value
bagi konsumen. Untuk menghasilkan value yang unggul tidak cukup hanya memiliki
sumber daya yang memadai tetapi harus didukung dengan kapabilitas, kompetensi
inti, dan keunggulan kompetitif untuk melaksanakan diferensiasi yang ditujukan
untuk memenangkan kompetisi tersebut. Perusahaan juga harus menganalisis dari
dekat apakah segmen pasar yang dipilih telah sejalan dan mendukung tujuan
jangka panjang perusahaan. Ketiga adalah bahwa segmen pasar yang dibidik harus
didasarkan pada situasi persaingannya. Perusahaan harus mempertimbangkan
situasi persaingan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi daya
tarik targeting perusahaan. Beberapa faktor yang dipertimbangkan disini antara
lain intensitas persaingan segmen, potensi masuknya pemain baru, hambatan masuk
industri, keberadaan produk-produk pengganti, kehadiran produk-produk
komplementer serta pertumbuhan kekuatan tawar menawar pembeli maupun pemasok.
Dengan menggunakan beberapa kriteria diatas perusahaan dapat menemukan
kesesuaian perusahaan dengan segmen pasar yang tepat. Menentukan Target Market
Dalam menetapkan target market perusahaan dapat mempertimbangkan lima pola,
dapat dijelaskan sebagai Berikut : 1. Single Segment Concentration. Single
Segment Concentration maksudnya adalah perusahaan dapat memilih satu segmen
saja. Perusahaan lebih bisa mencapai posisi yang kuat disatu segmen, dengan pengetahuan
yang baik terhadap kebutuhan segmen sehingga bisa diperoleh keuntungan. Namun,
konsentrasi di satu segmen mempunyai potensi resiko yang cukup besar, sehingga
alasan inilah yang mendasari perusahaan untuk memilih lebih dari satu segmen.
2. Selective Specialization. Selective Specialization maksudnya adalah
perusahaan menyeleksi beberapa segmen. Segmen yang dipilih mungkin tidak saling
berhubungan atau membentuk sinergi, tetapi masing – masing segmen menjanjikan
uang. Strategi ini lebih dipilih oleh perusahaan untuk menghindari kerugian,
walaupun salah satu segmennya tidak produktif, tetapi perusahaan tetap
memperoleh pendapatan dari segmen yang lain. 3. Product Specialization. Product
Specialization maksudnya perusahaan berkonsentrasi membuat produk khusus atau
tertentu. Melalui cara ini, perusahaan membangun reputasi yang kuat di produk
yang spesifik. Namun resikonya tetap ada, yaitu apabila terjadi kekurangan
bahan untuk pembuatan produknya atau keterlambatan melakukan perubahan
teknologi. 4. Market Specialization. Market Specialization maksudnya adalah
perusahaan berkonsentrasi melayani berbagai kebutuhan dalam kelompok tertentu.
Perusahaan memperoleh reputasi yang kuat dan menjadi channel untuk semua produk
baru yang dibutuhkan dan dipergunakan oleh kelompok tersebut. Resiko akan
kerugian akan timbul apabila kelompok tadi mengurangi pembelian atau
kebutuhannya. 5. Full Market Coverage. Full Market Coverage maksudnya adalah
perusahaan berusaha melayani semua kelompok dengan produk yang dibutuhkan. Namun,
hanya perusahaan besar yang bisa melakukannya. Untuk menciptakan kepuasan
konsumen, pemasar dapat melakukan diferensiasi dan menghasilkan lebih banyak
penjualan daripada tidak melakukan diferensiasi, namun diferensiasi dapat
meningkatkan biaya perusahaan. Secara umum, hal ini tetap akan bermanfaat
khususnya apabila dikaitkan dengan strategy profitability, namun demikian
perusahaan sebaiknya berhati – hati agar tidak terjadi over segmenting. Biaya
yang diperkirakan adalah Product modification cost, manufacturing cost,
administrative cost, inventory cost, dan promotion cost. Selain itu ada
pertimbangan tambahan yang perlu diperhatikan perusahaan dalam mengevaluasi dan
memilih segmen yaitu (Kotler, 2003): 1.Pilihan etika atas pasar sasaran. Dalam
menetapkan target market perusahaan hendaknya tidak menimbulkan pertentangan,
seperti mngambil keuntungan dari kelompok yang rapuh seperti anak-anak atau
mempromosikan produk yang berbahaya. Karena dalam pasar sasaran masalahnya
bukanlah siapa yang dipilih sebagai target tapi bagaimana dan untuk apa. Pasar
yang memiliki tanggungjawab sosial mengharuskan segmentasi dan target pasar
yang melayani tidak hanya untuk kepentingan industri saja tetapi juga
kepentingan mereka yang dijadikan sasaran. 2.Interelasi dan segmen super.
Segmen super adalah sekumpulan segmen yang memiliki kesamaan yang dapat
dieksploitasi, sehingga perusahaan akan bijaksana jika memilih segmen super
daripada segmen di dalam segmen super karena perusahaan tidak memiliki
keunggulan kompetitif terhadap industri-industri yang telah berada dalam segmen
super. 3.Rencana serangan segmen per segmen. Pesaing tidak boleh tahu segmen
mana yang dituju oleh perusahaan. Jika diketahui maka perusahaan harus mencari
jalan keluar untuk menerobos yakni dengan cara menyerang pasar tertutup dengan
pendekatan mega marketing artinya koordinasi strategis keahlian ekonomi,
psikologis, politik dan hubungan masyarakat untuk memasuki atau beroperasi
dalam pasar tertentu. 4.Kerjasama antar segmen. Cara terbaik untuk mengelola segmen
adalah kerjasama antara SDM di dalam perusahaan untuk membangun bisnis segmen
perusahaan. 3).Positioning Positioning adalah image atau citra yang terbentuk
di benak seorang konsumen dari sebuah nama perusahaan atau produk.
Posititioning adalah bagaimana sebuah produk dimata konsumen yang membedakannya
dengan produk pesaing. Dalam hal ini termasuk brand image, manfaat yang
dijanjikan serta competitive advantage. Inilah alasan kenapa konsumen memilih
produk suatu perusahaan bukan produk pesaing. Seperti halnya diungkapkan Milton
M. Presley et al dalam Advertising procedure: “Positioning product is the place
your product occupies in consumers’ minds relative to competing products. Think
brand image, benefit promise, and competitive advantage. It’s how you plan to
compete in the marketplace. It’s the reasons customers should buy your product,
and not the competitors”. Sementara itu Fanggidae, 2006, menyatakan positioning
adalah suatu strategi dalam kegiatan pemasaran yang bertujuan untuk menciptakan
perbedaan (differents), keuntungan (advantages), manfaat (benefit) yang membuat
konsumen selalu ingat dengan suatu produk. Dengan kata lain sebagai usaha
menempatkan sesuatu dalam pikiran orang dengan terlebih dahulu memberikan
informasi tentang segala sesuatu seperti fasilitas, program yang diberikan,
dosen yang dimiliki dengan cara penyuguhan kualitas pelayanan dan bagaimana
mempresentasikannya. Selanjutnya Kotler, Kartajaya, Huan dan liu, 2003
menyatakan positioning sebagai ”the strategy for leading your cutomers credibly”
yaitu suatu strategi untuk membangun kepercayaan, keyakinan dan kompetensi bagi
konsumen. Positioning adalah mengenai bagaimana perusahaan mendapatkan
kepercayaan pelanggan untuk dengan sukarela mengikuti perusahaan. Selanjutnya
Yoram Wind, dalam Kotler et all 2003 menyatakan positioning sebagai reason for
being yaitu bagaimana mendefinisikan identitas dan kepribadian perusahaan di
benak konsumen. Perusahaan harus mempunyai kredibilitas di benak konsumen untuk
itu konsumen perlu dibimbing. Positioning tidak sekedar membujuk dan
menciptakan citra dalam benak pelanggan, tetapi juga bagaimana merebut
kepercayaan pelanggan. Positioning menyangkut menciptakan being dalam benak
konsumen dan membimbing mereka dengan penuh kredibilitas. Selanjutnya positioning
merupakan sebuah janji yang dibuat perusahaan kepada konsumen. Janji tersebut
harus ditepati dan kemampuan perusahaan untuk menepati janji merupakan bagian
yang vital dan strategi. Karena alasan inilah, positioning yang tepat merupakan
hal yang krusial bagi keberhasilan akhir perusahaan. Cara Menentukan
Positioning Dalam menentukan positioning ada empat tahap yaitu: identifikasi
target, menentukan frame of reference pelanggan (siapa diri), merumuskan point
of differentiation — Mengapa konsumen memilih perusahaan, menetapkan keunggulan
kompetitif produk — bisa dinikmati sebagai sesuatu yang beda (Kotler, 2003).
Sementara itu Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu, 2003 menyatakan ada empat
kriteria yang dapat dilakukan perusahaan untuk menentukan positioning. Pertama
adalah kajian terhadap konsumen (cutomer). Disini positioning harus
mendeskripsikan value bagi konsumen karena positioning mendeskripsikan value
yang unggul. Selain itu positiong merupakan penentu penting bagi konsumen pada
saat memutuskan untuk membeli. Kriteria kedua didasarkan atas kajian pada
kapabilitas perusahaan (company). Disini positioning harus mencerminkan
kekuatan dan keunggulan kompetitif perusahaan. Seperti lokasi yang strategis.
Kriteria ketiga didasarkan atas kajian pada pesaing (competitor). Disini
positioning harus bersifat unik, sehingga dengan mudah dapat mendiferensiasikan
diri dari para pesaing. Kriteria keempat didasarkan atas kajian terhadap
perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis (change). Dikatakan bahwa
positioning harus berkelanjutan dan selalu relevan dengan berbagai perubahan
lingkungan bisnis. Positioning pada hakikatnya adalah menanamkan sebuah
persepsi, identitas dan kepribadian di dalam benak konsumen. Untuk itu agar
positioning kuat maka perusahaan harus selalu konsisten dan tidak berubah.
Karena persepsi, identitas dan kepribadian yang terus menerus berubah akan
menimbulkan kebingungan di benak konsumen dan pemahaman mereka akan tawaran
perusahaan akan kehilangan fokus. Dalam menetapkan penentuan positioning perusahaan
dapat memperhatikan faktor-faktor di bawah ini sebagai basis atau landasan
penentuan positioning:
1.Proposisi nilai dan manfaat yang dapat diberikan
perusahaan
2.Capaian yang telah dihasilkan perusahaan
3.Segmen pasar dan pelanggan yang ditargetkan
4.Atribut yang jadi keunggulan produk dan merk perusahaan
5.Bisnis baru yang dimasuki
6.Originalitas dan posisi sebagai perusahaan atau merk baru
di pasar Dalam mengkomunikasikan positioning sebuah produk perusahaan harus
memperhatikan faktor-faktor di bawah ini:
1. Be creative Be craetif maksudnya adalah bahwa perusahaan
harus kreatif untuk mencuri perhatian konsumen atau target market.
2. Simplicity
Simplicity maksudnya adalah komunikasi yang disampaikan harus sesederhana dan
sejelas mungkin
3.Consistent yet flexible Consistent yet flexible maksudnya
adalah perusahaan harus konsisten dan melihat kondisi.
4.Own, dominate, protect Own, dominate, protect maksudnya
adalah dalam komunikasi perusahaan harus memiliki satu atau beberapa kata ampuh
di benak pelanggan
5.User their language User their language maksudnya adalah
dalam mengkomunikasikan positioning perusahaan harus menggunakan bahasa
pelanggan.
Sumber : IEEE 802.1d Spanning Tree Protocol (STP), RFC 4318 -
Definitions of Managed Objects for Bridges with Rapid Spanning Tree Protocol
Sunday, 31 August 2014
Diagnosa WAN - VLAN Trunking Protocol
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
21:18
Ok, mulai ke materi
keempat .. Cekidoot~
Apakah
VLAN Trunk?
Telah kita ketahui bahwa VLAN merupakan suatu
broadcast domain, sekumpulan port atau user yang kita kelompokkan. Yang mungkin
sekarang menjadi pertanyaan adalah, dapatkan VLAN mencakup beberapa switch?
Jawabannya tentu saja ya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengonfigurasi VLAN
pada bebarapa switch dan kemudian menghubungkan switch tersebut, dengan satu
pasang port per VLAN.
Kelemahan cara ini adalah banyaknya port switch yang
menghubungkan switch tersebut. Cara ini juga lebih manual, membutuhkan lebih
banyak waktu, dan sulit untuk dikelola. Oleh karena itu, muncullah VLAN
trunking yang bertujuan untuk menghubungkan switch dengan interlink (uplink)
kecepatan tinggi, dan beberapa VLAN dapat berbagi satu kabel.
Trunk link tidak dibuat untuk satu VLAN tertentu.
Satu, beberapa, atau semua VLAN aktif dapat dilewati antar-switch dengan
mengguunakan satu trunk link. Adalah mungkin untuk menghubungkan dua switch
dengan link fisik terpisah untuk setiap VLAN. Namun dengan semakin banyaknya
VLAN yang dibuat, maka jumlah link dapat bertambah dengan cepat. Cara yang
lebih efisien adalah dengan menggunakan trunking. Untuk membedakan kepemilikan
traffic pada trunk link, switch harus mempunyai metode untuk mengidentifikasi
frame setiap LAN.
Apakah
Identifikasi Frame?
Karena trunk link dapat digunakan untuk mentransmisi
beberapa VLAN, switch harus mengidentifikasi frame setiap VLAN pada waktu
mereka dikirim atau diterima melalui trunk link. Identifikasi frame atau
tagging, memberi ID yang berbeda untuk setiap frame yang melewati trunk link.
ID ini dapat dianggap sebagai nomor VLAN atau “warna” VLAN, karena setiap VLAN
yang digambar pada diagram jaringan mempunyai warna yang berbeda.
Identifikasi frame VLAN dikembangkan untuk jaringan
switch. Pada waktu setiap frame melewati trunk link, suatu pengenal ditambahkan
dalam kepala frame. Pada waktu switch yang dilalui menerima frame ini, mereka
akan memeriksa pengenalnya untuk mengetahui milik siapa frame tersebut.
Apakah
VLAN Trunking Protocol?
VLAN Trunking Protocol (VTP) merupakan fitur Layer 2
yang terdapat pada jajaran switch Cisco Catalyst, yang sangat berguna terutama
dalam lingkungan switch skala besar yang meliputi beberapa Virtual Local Area
Network (VLAN).
Di dalam artikel VLAN pada beberapa edisi sebelumnya,
Anda telah melihat konsep VLAN dan juga VLAN tagging protocol seperti ISL. Jika
Anda ingat kembali, tujuan mengonfigurasi VLAN tagging adalah agar traffic dari
beberapa VLAN dapat melewati trunk link yang digunakan untuk menghubungkan
antar-switch. Meskipun hal ini merupakan hal yang baik dalam lingkungan yang
besar, VLAN tagging tidak melakukan apa-apa untuk mempermudah pengonfigurasian
VLAN pada beberapa switch. Di sinilah VTP mengambil bagian.
Apakah
VTP Domain?
Tujuan utama VTP adalah untuk menyediakan fasilitas
sehingga switch Cisco dapat diatur sebagai sebagai suatu grup. Sebagai contoh,
jika VTP dijalankan pada semua switch Cisco Anda, pembuatan VLAN baru pada satu
switch akan menyebabkan VLAN tersebut tersedia pada semua switch yang terdapat
VTP management domain yang sama. VTP management domain merupakan sekelompok
switch yang berbagi informasi VTP. Suatu switch hanya dapat menjadi bagian dari
satu VTP management domain, dan secara default tidak menjadi bagian dari VTP
management domain manapun.
Dari sini dapat kita lihat mengapa VTP sangat
menguntungkan. Bayangkanlah suatu lingkungan di mana administrator jaringan
harus mengatur 20 switch atau lebih. Tanpa VTP, untuk membuat VLAN baru
administrator harus melakukannya pada semuanya switch yang diperlukan secara
individu. Namun dengan VTP, administrator dapat membuat VLAN tersebut sekali
dan VTP secara otomatis akan menyebarkan (advertise) informasi tersebut ke
semua switch yang berada di dalam domain yang sama. Keuntungan VTP yang utama
adalah efisiensi yang diberikan dalam menambah dan menghapus VLAN dan juga
dalam mengubah konfigurasi VLAN dalam lingkungan yang besar.
Secara umum, mengonfigurasi VTP pada switch Cisco
Catalyst bukanlah pekerjaan yang sulit. Pada kenyataannya, begitu nama VTP management
domain dibuat pada setiap switch, proses pertukaran informasi VTP antar-switch
akan dilakukan secara otomatis dan tidak memerlukan konfigurasi lebih lanjut
atau pengaturan setiap hari. Namun, untuk mendapatkan gambaran lengkap
bagaimana VTP bekerja dalam suatu VTP domain, pertama Anda harus mengetahui
mode VTP.
Apakah
Mode VTP?
Jika Anda ingin membuat switch menjadi bagian dari
suatu VTP management domain, setiap switch harus dikonfigurasi dalam satu dari
tiga mode VTP yang dapat digunakan. Mode VTP yang digunakan pada switch akan
menentukan bagaimana switch berinteraksi dengan switch VTP lainnya dalam
management domain tersebut. Mode VTP yang dapat digunakan pada switch Cisco
adalah mode server, mode client, dan mode transparent.
Mode server—VTP server mempunyai kontrol penuh atas
pembuatan VLAN atau pengubahan domain mereka. Semua informasi VTP disebarkan ke
switch lainnya yang terdapat dalam domain tersebut, sementara semua informasi
VTP yang diterima disinkronisasikan dengan switch lain. Secara default, switch
berada dalam mode VTP server. Perlu dicatat bahwa setiap VTP domain paling
sedikit harus mempunya satu server sehingga VLAN dapat dibuat, dimodifikasi,
atau dihapus, dan juga agar informasi VLAN dapat disebarkan.
Mode client—VTP client tidak memperbolehkan
administrator untuk membuat, mengubah, atau menghapus VLAN manapun. Pada waktu
menggunakan mode client mereka mendengarkan penyebaran VTP dari switch yang
lain dan kemudian memodifkasi konfigurasi VLAN mereka. Oleh karena itu, ini
merupakan mode mendengar yang pasif. Informasi VTP yang diterima diteruskan ke
switch tetangganya dalam domain tersebut.
Mode transparent—switch dalam mode transparent tidak
berpartisipasi dalam VTP. Pada waktu dalam mode transparent, switch tidak
menyebarkan konfigurasi VLAN-nya sendiri, dan switch tidak mensinkronisasi
database VLAN-nya dengan advertisement yang diterima. Pada waktu VLAN ditambah,
dihapus, atau diubah pada switch yang berjalan dalam mode transparent,
perubahan tersebut hanya bersifat lokal ke switch itu sendiri, dan tidak
disebarkan ke swith lainnya dalam domain tersebut.
Berdasarkan peran masing-masing mode VTP, maka
sekarang kita dapat mengetahui penggunaannya. Sebagai contoh, jika mempunyai 15
switch Cisco pada jaringan, Anda dapat mengonfigurasi mereka dalam VTP domain
yang sama. Walaupun setiap switch secara teori dapat berada dalam mode default
(mode server), akan lebih mudah jika hanya satu switch saja yang dalam mode itu
dan kemudian mengonfigurasi sisanya dakan mode client.
Kemudian, ketika Anda ingin menambah, menghapus,
atau mengubah VLAN, perubahan tersebut secara otomatis dapat disebarkan ke
switch mode client. Jika Anda perlu suatu switch yang “standalone”, atau tidak
ingin menyebarkan informasi VLAN, gunakan mode transparent.
Apakah
VTP Advertisement?
Setiap switch yang tergabung dalam VTP menyebarkan
VLAN, nomor revisi, dan parameter VLAN pada port trunk-nya untuk memberitahu
switch yang lain dalam management domain. VTP advertisement dikirim sebagai frame
multicast. Switch akan menangkap frame yang dikirim ke alamat multicast VTP dan
memproses mereka.
Karena semua switch dalam management domain
mempelajari perubahan konvigurasi VLAN yang baru, suatu VLAN hanya perlu dibuat
dan dikonfigurasi pada satu VTP server di dalam domain tersebut.
Secara default, management domain diset ke
non-secure advertisement tanpa password. Suatu password dapat ditambahkan untuk
mengeset domain ke mode secure. Password tersebut harus dikonfigurasi pada
setiap switch dalam domain sehingga semua switch yang bertukar informasi VTP
akan menggunakan metode enkripsi yang sama.
VTP advertisement dimulai dengan nomor revisi
konfigurasi 0 (nol). Pada waktu dilakukan perubahan, nomor revisi akan
dinaikkan sebelum advertisement dikirim ke luar. Pada waktu switch menerima
suatu advertisement yang nomor revisinya lebih tinggi dari yang tersimpan di
dalam, advertisement tersebut akan menimpa setiap informasi VLAN yang
tersimpan. Oleh karena itu, penting artinya untuk memaksa setiap jaringan baru
yang ditambahkan dengan nomor revisi nol. Nomor revisi VTP disimpan dalam VRAM
dan tidak berubah oleh siklus listrik switch.
Apakah
VTP Pruning?
Walaupun konfigurasi trunk link (menggunakan
protokol seperti ISL) memungkinkan traffic dari beberapa VLAN melewati satu
link, ini tidaklah selalu optimal. Sebagai contoh, misalkan ada tiga switch
yang dihubungkan dengan dua trunk link, seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Dalam kasus ini, ketiga switch tergabung VLAN 1, tetapi hanya switch A dan
switch B yang tergabung dalam VLAN 2. Semua traffic VLAN 2 akan tetap
dilewatkan ke switch C, walaupun ia tidak tergabung dalam VLAN 2.
Pada waktu VTP Pruning digunakan dalam VTP
management domain, traffic VLAN hanya akan dilewatkan ke switch jika
diperlukan. Dalam kasus ini, penggunaan VTP Pruning akan memastikan traffic
VLAN 2 tidak pernah dilewatkan ke switch-C sampai switch C benar-benar
tergabung dalam VLAN 2.
Diagnosa WAN - Virtual LAN
Posted by
Erlangga Kiswara,
on
09:21
Pengertian dari VLAN
(Virtual LAN) adalah suatu model jaringan yang tidak terbatas pada
lokasi fisik seperti LAN, hal ini mengakibatkan suatu network dapat
dikonfigurasi secara virtual tanpa harus menuruti lokasi fisik peralatan.
Penggunaan VLAN akan membuat pengaturan jaringan menjadi sangat fleksibel
karena dapat dibuat segmen yang bergantung pada organisasi, tanpa bergantung
lokasi workstations.
|
|
|
Contoh Pembagian VLAN
|
VLAN diciptakan untuk
menyediakan layanan segmentasi secara tradisional disediakan oleh router di
konfigurasi LAN. VLAN menangani masalah-masalah seperti skalabilitas, keamanan,
dan manajemen jaringan.
Kegunaan VLAN
- Menimalisir kemungkinan terjadinya konflik IP yang terlalu
banyak.
- Mencegah terjadinya collision domain (tabrakan domain).
- Mengurangi tingkat vulnerabilities.
Cara Kerja VLAN
VLAN diklasifikasikan
berdasarkan metode (tipe) yang digunakan untuk mengklasifikasikannya, baik itu
menggunakan port, MAC address, dsb. Semua informasi yang mengandung
penandaan/pengalamatan suatu VLAN (tagging) disimpan pada suatu database,
jika penandaannya berdasarkan port yang digunakan maka
database harus mengindikasi port-portyang digunakan VLAN.
Untuk mengaturnya maka biasanya
digunakan switch yang bisa diatur. Switch/bridge inilah yang bertanggung jawab
menyimpan semua informasi dan konfigurasi suatu VLAN dan dipastikan semua
switch memiliki informasi yang sama.
VLAN Cross Connect (CC) adalah
mekanisme yang digunakan untuk membuat VLAN Switched, VLAN CC menggunakan frame
IEEE 802.1ad mana Tag S digunakan sebagai Label seperti dalam MPLS. IEEE menyetujui
penggunaan seperti mekanisme dalam nominal 6,11 dari IEEE 802.1ad-2005.
Kesimpulannya, VLAN membuat
kita dapat mengontrol pola lalu lintas dan bereaksi cepat untuk relokasi. VLAN
memberikan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan dalam persyaratan
jaringan dan memungkinkan untuk administrasi disederhanakan.
Apa Kelemahan dari VLAN ?
- Secara logika berbeda network tetapi secara
fisik satu network
- Ketika ada broadcast jadi semua dikirim ke
semua
- ketika jumlah banyak host-nya maka kerja DHCP akan berantakan
dan tidak bisa diduga.
Kenapa harus menggunakan VLAN?
- Jika dalam jumlah yang banyak dalam satu network maka
akan terganggu (gampang terserang hack)
- Keamanan menjadi baik karena fisik satu network tetapi logic
berbeda network
- Masalah kebutuhan
- Router itu kerjanya lebih lambat ketimbang switch
- Dengan VLAN broadcast akan di batasi
- Untuk membedakan VLAN satu denngan VLAN yang lain dengan
menggunakan ID
- Contohnya port 1-5 masuk ke VLAN1
- VLAN dengan bentuk Number Angka
- Contoh VLAN10 -> Sales
Jenis-jenis VLAN dalam Switch
1. VLAN default adalah VLAN yang sudah ada secara default contoh
di cisco VLAN1,VLAN1002
2. Data VLAN adalah VLAN yang digunakann oleh user
3. VLAN VOIP adalah dikhususkan untuk komunikasi suara dan
akan memberikan prioritas utama dibandingkan datanya
4. VLAN Native
5. VLAN management adalah VLAN yang dibangun keperluan management switch,
misalnya : akan mengubah konfigurasi switch Admin, dan Admin dimasukkan
ke VLAN management artinya hanya orang-orang yang keperluan khusus
Jalur VLAN ada 2 bentuk
1. Tradisional jadi mempunyai banyak jalur
2. TRUNKING yaitu VLAN yang mempunyai 1 jalur mempunyai teks
yang mengidentifikasikan beberapa VLAN atau jalurnya mempunyai banyak jalur
logika dlam 1 fisik
2 Port yang biasa digunakan
1. Port Access = port menghubungkan ke PC (Data user)
2. Port Trunking = port yang menghubungkan antar SWITCH
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

